
Pada Tanggal 7 September 2026 Pada Hari Senin Sekolah Ma Al-Hikmah Mengadakan Outing Class ,
Outing Class Hanya Diikuti Kelas 12 Saja , Tujuan Outing Class Adalah Berikut ada beberapa tujuan dan manfaat penting dari kegiatan outing class:
Merangsang Kreativitas: Mengajak siswa mengamati fenomena sekitar untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, minat, serta bakat baru.
Memperluas Wawasan: Membantu siswa melihat dan memahami materi pelajaran secara langsung dari lingkungan atau objek nyata.
Mengurangi Kejenuhan: Menciptakan suasana belajar yang baru, menyenangkan, dan tidak monoton sehingga siswa lebih mudah menerima informasi.
Meningkatkan Keterampilan Sosial: Melatih kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan berinteraksi dengan orang lain di luar lingkungan sekolah.
Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab: Membiasakan siswa menjaga diri, mengatur perlengkapan pribadi, serta peduli terhadap kebersihan alam sekitar.
Outing Class DImulai Pada Pukul 08.00 Wib s/d Kami Berangkat Menggunakan Kendaraan Bermotor Dan Kami Berjumlah 10 Orang , 7 Orang Siswa Dan 3 Orang Guru Pendamping , Disana Kami Mengunjungi Yaitu Yang Pertama Kami Mengikuti Upacara Adat Nyangku Di Panjalu , Makna Dari Panjalu Ialah Upacara Adat Nyangku di Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, adalah prosesi sakral untuk membersihkan benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora serta para raja dan bupati Panjalu. [1]
Kata nyangku berasal dari bahasa Arab yanko yang artinya membersihkan, yang kemudian dimaknai oleh masyarakat Sunda sebagai nyaangan laku atau menerangi perilaku.
Makna Utama Upacara Nyangku
Kohesi Sosial: Tradisi ini memperkuat solidaritas, kebersamaan, dan ikatan persaudaraan di tengah masyarakat.
Penyucian Diri: Membersihkan benda pusaka menjadi simbol agar manusia juga senantiasa melakukan introspeksi diri serta menyucikan hati, pikiran, ucapan, dan perilaku.
Penghormatan Leluhur: Ritual ini merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan atas jasa-jasa para leluhur Panjalu yang telah membangun peradaban dan menyebarkan ajaran Islam.
Setalah Mengikuti Upacara Adat nyangku Kami Ziarah Ke Para Leluhur Yang Berada Di Nusa Gede Panjalu,
Berikut adalah hal-hal penting mengenai Nusa Gede Panjalu:
Pusat Sejarah dan Religi
- Pusat Kerajaan: Konon, Nusa Gede atau yang juga dikenal sebagai Nusa Larang dulunya merupakan pusat pemerintahan dan benteng pertahanan Kerajaan Panjalu kuno.
- Makam Keramat: Di pulau ini terdapat makam tokoh penyebar Islam yang dihormati, yaitu Prabu Sanghyang Borosngora atau dikenal sebagai Mbah Panjalu.
- Wisata Ziarah: Tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata religi terkemuka di Jawa Barat yang ramai dikunjungi peziarah.
Cagar Alam dan Konservasi
- Kawasan Lindung: Sebagian besar wilayah pulau ini (sekitar 16 hektar termasuk area perairan/daratan) ditetapkan sebagai Cagar Alam Nusa Gede Panjalu sejak tahun 1919 oleh pemerintah kolonial.
- Hutan Alami: Vegetasi di pulau ini didominasi oleh hutan hujan tropis pegunungan bawah (sub-montane forest) yang asri dan dijaga kelestariannya.
Selesai Dari Panjalu Kami Mengunjungi Menuju Astana Gede Kawali ,

Astana Gede Kawali adalah situs bersejarah yang berada di Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Sunda-Galuh dan berkaitan erat dengan sejarah pemerintahan Kerajaan Galuh pada masa lalu.
Lokasi dan Kondisi
- Alamat: Dusun Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
- Luas Area: Mencapai hampir 5 hektar dan dikelilingi oleh pepohonan besar yang rimbun.
- Fungsi Utama: Bekas pusat pemerintahan (ibu kota) Kerajaan Sunda-Galuh serta area suci atau kabuyutan.
Peninggalan Bersejarah
Situs Lainnya: Termasuk mata air Cikawali, batu cermin, menhir, serta makam tokoh-tokoh penyebar agama Islam di masa berikutnya seperti Raden Adipati Singacala.
Prasasti Kawali: Terdapat beberapa prasasti (seperti Prasasti Kawali I hingga VI) yang menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno. Prasasti ini umumnya berupa tugu peringatan (sakakala) dari masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana yang berkuasa pada abad ke-14 hingga ke-15.
Batu Penobatan: Tempat yang konon digunakan untuk upacara penobatan raja-raja Galuh.
Jejak Perang Bubat: Terdapat batu tempat penyimpanan atau peletakan abu jasad Putri Diah Pitaloka (Dewi Citra Resmi) beserta pengiringnya yang gugur dalam Perang Bubat.
