By : Liya_27
Suara Notifikasi Di Ponsel Di Atas Meja Kaca Itu Memecah Sunyi Malam Hari Di Ciamis. Layar Menyala,Menampilkan Nama Kakay Dengan Ikon Panggilan Video. Aku Berlangsung Mengusap Layar Dan Wajah Penuh Senyum Seorang Perempuan Berambut Hitam Melekat Muncul Disana.
“Hai, Mel! Belum Tidur?” Sapa Kakay Dari Ujung Sana, Disebuah Kamar Biru Sky Miliknya Di Kota Madura.
“ Belum, Kay. Lagi Pusing Nyiapin Tugas Sekolah,” Jawabku Sambil Melambai Ke Kamera
Sudah 4 Tahun Sejak Kakay Memutuskan Pindah Ke Kota Madura , Sementara Aku Tetap Bertahan Di Tanah Kelahiran, Ciamis. Jarak Ratusan Kilometer Dan Deretan Pegunungan Memisahkan Kami. Dulu,Setiap Sore Kami Selali Duduk Bersama – Sama Di Kuliner Kota , Berbagi Satu Kantong Mie Ayam, Dan Membicarakan Mimpi Dan Cita Cita Yang Konyol Masa Smp. Sekarang,Obrolan Itu Berpindah Ke Dalam Kotak Kecil Berukuran Lima Inci.
Awalnya,Jarak Ini Terasa Sangat Berat. Ada Rasa Takut Bahwa Kesibukan Masing – Masing Akan Memuat Kami Asing. Pesan Singkat Yang Tadinya Dibalas Hitungan Detik,Berubah Menjadi Hitungan Jam Karena Jadwal Sekolah Kami Yang Padat. Pernah Suatu Malam, Aku Menangis Sendirian Karena Merasa Sendirian Menghadapi Masalah Keluarga,Sementara Kakay Sedang Sibuk Ujian Akhir Semester Dan Tidak Bisa Dihubungi.
Namun,Jarak Juga Bisa Mengajarkan Kami Cara Untuk Saling Memahami.
“Meli,Coba Lihat Ini!”Kakay Tiba – Tiba Memutar Kamera Ponselnya,Memperlihatkan Sudut Jalan Sampang Yang Basah Diguyur Hujan Malam. “ Aku Beli Matcha Drink Langganan Kita Dulu,Tapi Rasanya Kurang Pas Karena Kamu Nggak Ada Disebelahku.”
Aku Tersenyum Lebar” Curang!Disini Aku Cuma Bisa Mandangin Segelas Susu Hangat Buatan Ibu.”
Meski Terpisah Jarak,Kami Punya Ritual Kecil. Setiap Sabtu Malam, Tepat Pukul Delapan, Kami Akan Melakukan Panggilan Video Sambil Membawa Minuman Masing – Masing Seolah – Olah Sedang Nongkrong Di Warung Macha Yang Sama. Kami Membicarakan Apa Saja; Mulai Dari Guru Yang Killer,Teman Teman Yang Menyebalkan Hingga Ke Khawatiran Tentang Masa Depan Setelah Lulus Nanti.
Pernah Suatu Ketika, Saat Aku Merasa Sangat Lelah Dan Ingin Menyerah Dengan Sekolahku,Kakay Tidak Memberiku Nasihat Yang Panjang. Ia Hanya Berkata Lewat Layar,” Melisa, Ingat Nggak Waktu Smp Kita Kehujanan Dijalan Dan Motormu Mogok?Kita Tetap Jalan Kaki Ketawa – Ketawa Sampai Rumah. Masalah Ini Cuman Bagian Kecil Dari Hujan Itu. Aku Disini,Pegang Hp – Ku Erat – Erat,Kamu Nggak Sendirian.”
Kata Kata Itu Seperti Sihir Yang Meresap Ke Dada. Aku Sadar, Persahabatan Sejati Bukan Tentang Seberapa Sering Kalian Bertemu Secara Fisik, Tetapi Tentang Seberapa Besar Ruang Pelukan,Tapi Tidak Bisa Membatasi Kepedulian.
Panggilan Malam Itu Ditutup Dengan Tawa Kecil Ketika Sinyal Ditempat Kakay Mulai Kabur Dan Wajahnya Menjadi Buram Seperti Mosaik.
“ Minggu Depan Ku Pulang Ke Ciamis,Mel!”Seru Kakay Sebelum Sambungan Terputus.
Aku Menatap Ponsel Yang Kembali Gelap. Hati Terasa Hangat. Jarak Memang Membentang Luas Diantara Kami, Tetapi Di Dalam Dada , Jarak Itu Terasa Tidak Pernah Ada Sama Sekali.
