Assalamualaikum wr.wb

Seperti yang kita ketahui tentang DI/TII atau Negara Islam Indonesia adalah suatu operasi Jihad yang di pimpin oleh Imam Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo yang menentang dasar negara Pancasila,Akan tetapi itu hanyalah sebuah fakta sejarah yang di putar balikan oleh Rezim Nasionalis-Sekuler (Soekarno),mari kita ulas lebih dalam siapakah S.M Kartosuwirjo dan apa tujuan dia mendirikan DI/TII.
S.M Kartosuwirjo lahir di Blora,kec Cepu,Bojonegoro 7 Januari 1905,dia menempuh pendidikan di sekolah sekolah elit Belanda untuk pribumi diantaranya Nederslandche Indische Artsen School dan masih banyak lagi,pada se masa perkuliahan,ia mulai tertarik dengan politik,khususnya dasar politik Islam,Ia kemudian bergabung dengan organisasi Syarikat Islam pimpinan HOS.Tjokroaminoto dan menjadi staf kepercayaanya,ia juga pertama kali bertemu dengan Soekarno di rumah Tjokroaminoto,karena pada saat itu Tjokroaminoto adalah penasehat politik Soekarno.
Selain melahap banyak buku buku tentang hakikat hakikat islam, ia juga membaca banyak buku buku sayap kiri komunis,ia berpendapat bahwa ideologi sosialis memang bisa menghapuskan penindasan dan ketidak setaraan,akan tetapi Islam mengajarkan lebih dari itu,karena berasal dari Al-Qur’an dan A-Sunah,yang secara Kaffah (keseluruhan) mengajarkan Keadilan dan kesetaraan,maka dia ber cita cita menjadikan Negara Indonesia berdasarkan asas Islam.
Sebagai bentuk perjuangan S.M Kartosuwirjo,ia bergabung dengan partai Masyumi, guna berjuang di Parlemen.
Pada saat kembalinya Belanda ke Ibu Pertiwi dan melakukan perjanjian Linggarjati,dimana Belanda mengakui wilayah de facto Indonesia hanya Sumatra, Jawa, dan Madura, S.M Kartosuwirjo sedikit kesal terhadap perjanjian tersebut,karena mengurangi wilayah kekuasaan Indonesia.
Akan tetapi Belanda melanggar perjanjian tersebut dengan melakukan agresi militer ke daerah jawa barat (Basis kekuatan DI/TII) dan melakukan blokade ekonomi. Akibat agresi tersebut maka Amerika Serikat sebagai penangah melakukan perjanjian baru untuk Indonesia dan Belanda di atas geladak kapal perang USS Renville,Isi perjanjian tersebut kurang lebih adalah mengurangi wilayah kekuasaan Indonesia termasuk Jawa Barat dan menjadikan Indonesia sebagai negara serikat(Terdiri dari negara negara bagian),Maka nama Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat,akibatnya Divisi militer Siliwangi di tarik dari Jawa Barat ke Jawa Tengah.
Mengetahui perjanjian tersebut, S.M Kartosuwirjo geram dan melakukan langkah konsolidasi dengan para pengikut nya untuk melakukan perang gerilya,dan memutus hubungan dengan pemerintahan Soekarno,sebelumnya perdana menteri Indonesia pada saat itu M.Natsir,mengirim sepucuk surat pada Kartosuwirjo untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi dan berjuang bersama dengan para tokoh tokoh lain,Akan tetapi ajakan itu di tolak oleh Kartosuwirjo,dan ia mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) sebagai sebuah syarat terbentuknya sebuah negara,ia dengan segara membentuk kabinet pemerintahan yang di isi oleh para pengikut nya.
Setelah berdirinya NII kondisi politik Indonesia semakin kacau,terlebih adanya pemberontakan PKI,Permesta,Angkatan darat dan gejolak politik lainya.
Bertahun tahun NII melakukan perang gerilya di pegunungan pegunungan,seperti pegunungan Galunggung,Guntur,dan Pangrango,NII mulai kesulitan karena persenjataan yang seadanya,karena hasil jarahan dari pihak Belanda,terlebih lagi setelah agresi Belanda kedua,yang menduduki ibu kota saat itu,yaitu Yogyakarta telah berakhir karena perjanjian Roem-Roijen yang isi nya adalah penarikan pasukan militer dari wilayah demarkasi Indonesia dan menyerahkan persenjataan ke TNI,Mengakibatkan para Tentara Islam Indonesia (TII) kesusahan karena kalah persenjataan melawan TNI,akibatnya seiring berjalan nya waktu kekuatan DI/TII mulai melemah,ditambah banyaknya panglima TII yang membelot dan menyerah ke pihak Soekarno dan membocorkan informasi tentang keberadaan DI/TII.
Pada perang Gunung Geber,TII mengalami banyak kesulitan,karena TNI di bawah pimpinan Ibrahim adjie melakukan strategi Pagar Betis,yaitu memblokade ruang gerak TII,Maka pada 4 Juni 1962 menjadi akhir perjuangan Revolusi Islam di Jawa Barat,dengan tertangkapnya sang Imam Besar Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, Kartosuwirjo pun di jatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer,dan hukuman tersebut di lakukan di kepulauan seribu.
Selain DI/TII di Jawa Barat,ada juga DI/TII yang di pimpin Abdul Qahhar mudzakkar di sulawesi,DI/TII pimpinan Amir Fatah di Jawa tengah dan DI/TII pimpinan Teungku Daud Bereuh di Aceh,akan tetapi DI/TII Jawa tengah mudah sekali di tumpas oleh pihak TNI,berbeda dengan perjuangan Teungku daud Bereuh yang hingga tahun 1978 kekuatan DI/TII Aceh masih belum bisa di tumpas,Daud bereuh kecawa karena Soekarno tidak menepati janji nya yang akan memberi hak otonomi pada Aceh,sedangkan Abdul Qahhar Mudzakar pemimpin DI/TII sulawesi berhasil di tumpas pada 3 Februari 1965,pada perang Lasolo tersebut Qohhar mudzakar syahid tertembak oleh TNI.
Sepatutnya dasar negara Islam adalah pilihan bagi para pemerintah,karena umat Islam menjadi mayoritas apalagi setelah terbukti gagal nya keadilan oleh Pancasila
Referensi artikel ini berdasarkan buku berjudul Kesaksian pelaku sejarah DI/TII karya Irfan Awwas,sekian yang bisa saya tuliskan.
Wassalamualaikum wr.wb
follow instagram account : @_mhdm.adam
