Suara decitan sepatu memenuhi telinga, beberapa murid memasuki kelasnya masing-masing setelah bertanda masuk berbunyi beberapa menit yang, lalu para murid langsung duduk rapi menunggu kedatangan guru mata pelajaran pertama. Namun berbeda dengan kelas lain, kelas ini masih ricuh, ramai dengan perkataan-perkataan yang mereka lontarkan. Terlihat siswa dengan baju yang dikeluarkan dari celana, asyik bermain game dengan kaki di atas meja dan para gadis yang sibuk dengan kehidupan riasan mereka.
Kelas XII-IPS III kelas yang terkenal dengan murid yang sangat sulit diatur, selalu menyepelekan pembelajaran dan paling parah, selalu menjahili guru yang akan masuk ke dalam kelas mereka.
“woy-woy, ada kepsek, kepsek !!” Ucap salah seorang siswa yang baru saja mengintip lewat jendela.
Sontak semua menjadi diam, para gadis sibuk menyembunyikan alat rias mereka dan sibuk merapikan tempat duduk. Kepala sekolah pun memasuki kelas mereka dengan seorang guru cantik yang memakai hijab hitam mengikutinya dibelakang. seluruh murid diam memperhatikan orang baru di depan mereka dengan intens, sebagian dari mereka saling berbisik tentang membicarakan apa.
“Nah, selamat pagi akan-anak.” Sapa kepala sekolah sebagai pembuka.
“Pagi bu…!” Jawab semua murid serentak.
“Nah, perkenalkan ini bu Lastri. Wali kelas baru kalian sekaligus guru bahasa Indonesia baru.” Para murid mulai berbisik.
“Hai, semua. Perkenalkan, nama saya Lastri Utami. Kalian boleh panggil saya ibu Lastri” ucap Bu Lastri.
“Hai bu Lastri” Ucap semua murid.
“Nah, bu Lastri semoga betah ya sebagai wali kelas kelas XII-IPS III. Saya harap, ibu dapat menerima kekurangan dan kelebihan murid disini.” ucap kepala sekolah pelan. Bu Lastri menjawab dengan satu anggukan.
Kepala sekolah pun menepuk pundak Bu Lastri dengan pelan lalu berpamitan untuk keluar. Bu Lastri kemudian memandang seluruh murid dengan jumlah 25 murid. Semua murid melanjutkan aktifitas mereka setelah kepala sekolah keluar, mereka tak menghiraukan akan seseorang yang terus berdiri di depan mereka.
“Ekhm…” Bu lastri berdeham sebagai tanda meminta perhatian. Namun, layaknya angin lalu, murid-murid masih tak menghiraukannya.
Bu Lastri mulai geram, ia pun menggebrak meja setelah beberapa kali dehamannya tidak dihiraukan. Semua murid terlonjak kaget dan mulai diam.
“Nah, Terima kasih anak-anak,” Ucap Bu Lastri dengan senyum yang dipaksakan.
“Apa sih bu, caper banget.” Ucap seorang Siswi dengan nametag bertuliskan “Talitha”.
“Iya ih, baru jadi wali kelas aja udah sok,” ucap sisi yang lain dengan nametag Razkia.
Bu Lastri hanya tersenyum menanggapi perkataan dua siswi itu, meskipun dalam hati kecilnya ia merasa sakit hati.
“Ibu tidak sok asik bukan caper atau apapun itu. Ibu cuma ingin kalian perhatikan pembelajaran tidak lebih.” Ucap Bu Lastri lembut.
“Alah ibu, ngajar yang ngajar aja nggak usah basa-basi kita perhatiin kok.” ucap seorang siswa bernametag Raden yang asyik dengan Mobile Legends yang ia mainkan.
Bu Lastri menghampiri Raden yang tengah asyik, dan langsung merebut paksa handphonenya.
“Apaan sih Bu!, sini balikin. Orang lagi asyik.” Protes Raden.
” Hmm.. handphone kamu Ibu sita selama 2 minggu. Setelah 2 minggu kamu boleh mengambilnya.” Ucap Bu Lastri santai.
“Hah bu, mana bisa dong bu, itu handphone saya dan milik saya, suka-suka sayalah mau ngapain juga, bukan urusan ibu.” Raden menahan geram.
“Ini sedang jam pelajaran saya, kamu wajib memperhatikan saya, dan hak saya juga memberi pelajaran sama kalian. Dan juga…” Bu Lastri menjeda ucapannya.
“Suka-suka saya mau ngapain, karena ini kelas saya.” lanjut Bu Lastri.
Raden melongo, baru kali ini mendapati guru yang berani berkata seperti itu kepadanya.
“Ibu!,” teriak Chandra.
“Iya,” jawab Bu Lastri santai.
“Ibu tidak tahu Raden itu siapa ?”
“Ibu tahu kok….,” ucap BU Lastri tanpa melirik Chandra yang sedang berbicara.
“Ibu tahu kok, Raden itu anaknya donatur sekolah ini kan ? ya kan Raden ?” Bu Lastri melirik Raden, sedangkan ia membuang muka.
“Terus ibu nggak takut Raden laporin ke orangtuanya ?.” Tanya Talitha.
“Ya, silahkan. Saya tidak takut,”
“Kenapa ibu sampai toidak takut ?” tanya Dea
.”Karena saya…..,” Bu Lastri menggantung ucapannya dan membuat para murid penasaran.
“Kakak kandung dari ayah Raden.” Ucap Bu Lastri.
Semua murid pun terkejut, bukan main, ia tak men
