Di bangku panjang di depan kelas, seorang gadis tengah terdiam sendirian sambil fokus membaca buku. Dialah Alea Elviana,dia seorang gadis manis yang tak banyak bicara. Bahkan dia selau diejek teman-temannya bisu. Dia hanya tersenyum menghadapi segala macam prahara hidupnya.
Alea kin dududk di bangku kelas sebelas. Dia seorang siswa berprestasi ,waktu SMPnya dia sudah mendapatkan banyak penghargaan atas prestasinya. Bahkan waktukelas sepuluhnya dia peringkat pertama di kelasnya.
Meski pun Alea tak punya teman dia memiliki keluarga sangat perhatian dan penuh cinta. Tetapi dia tak pernah bercerita tentang segala prahanya. Dia lebih memilih tersenyum atas apapun yang terjadi.
Bel masuk berbunyi Alea segera masuk ke dalam kelasnya. Dia kembali membaca buku di bangkunya.
“Hai ! ” sapa seorang gadis pada Alea.
Alea menatap bingung gadis itu karena pertama kalinya dia melihat gadis itu di kelasnya.
“kalo di sapa jawab dong. Oh bingung ya belum kenal. Kenalin Syakila Raqella ” ucap Syakila panjang lebar di akhiri menjulurkan tangan.
“Alea Elviana” Balas Alea smbil menerima uluran tangan Syakila.
“Hai Lea, salam kenal ” Sapa Syakila sangat lembut.
Alea terpaku haru mendengar panggilan barunya.
“Boleh dududk disini ?” Tanya Syakila .
“Boleh, kamu murid baru ya ?” Jawab Alea di akhiri pertanyaan.
“iya, mulai sekarang kita teman.” Tegas Syakila sambil tersenyum tipis dan menjulurkan jari kelingking.
Dengan bahagia Alea ikut tersenyum dan menerima uluran kelingking Syakila.
Semakin hari pertemanan meraka semaki dekat. Meraka selalu bersama setiap harinya. Perteman mereka membuat hari hari Alea semkin berwarna.
“Leaaaa !” teriak Syakila memanggil Alea dari sebrang jalan.
“Ilaaa !”Blas Alea sambil melambaikan tangan dan berlari menyebrang.
Keduanya saling berpelukan melepas rindu. Mereka berkeliling memandangi keindahan taman.
Hari semakin siang, Syakila terlihar sangat pucat bersamaan badannya yang melemas. Sekuat tenaga Alea berusaha menahan tubuh Syakila yamg hampir tumbang.
“Ila, kamu kenapa?” Panik Alea sambil terus berjalan memapah Syakila.
Syakila hanya tersenyum sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Di ruang serba putih , Alea berjalan mondar-mandir tak karuan sampai orang tua Syakila datang.
“Syakila kenapa?” Tanya ibu Syakila.
