KEINDAHANNYA

Di sebuah lereng pegunungan yang amat banyak di minati oleh turis-turis karna suasana yang bersih ,adem ,dan keindahannya yang menyilaukan mata semua pengunjung yaitu gunung rinjani . ada lima manusia yang sedang berusaha mendaki ke atas bukit ,tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan -satria,sidiq,mahesa,azzahra,dan juga naura

Dengan tas besar(carrier) yang berisi perlengkapan digendongnya,Mereka sudah lama merencanakan perjalanan ini. Bagi sisiq, ini adalah pendakian kesepuluh. Namun bagi zahra, yang baru pertama kali, setiap langkah terasa berat sekaligus menegangkan.

“Pelan – pelan saja,ra . Gunung nggak bakal pindah,” ujar sidiq sambil tersenyum.

azzahra balas dengan tertawa dan juga teman-temannya. Nafasnya sudah tersengal karna jalan yang semakin terjal, tapi matanya menatap kagum pada pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi, seperti penjaga hutan purba.

“biasalah ,baru pertama kali naik gunung ,ya ra” ucap naura yang ada di belakang azzahra

“iya,tapi kan pengalaman pertama itu akan selalu berkesan ” jawab azzahra yang masih terpesona oleh pemandangan yang di suguhi gunung rinjani

Setelah dua jam berjalan, mereka berhenti di sebuah pos kecil. satria menyalakan kompor portabel dan mulai merebus air. Sementara itu, naura sibuk memotret kabut yang perlahan tersingkap, memperlihatkan lembah hijau di bawah sana.

“Cantik banget,” bisiknya. “Kayak dunia lain.”

sidiq menatap sekeliling. Ia selalu suka momen seperti ini—ketika semua diam, hanya bunyi angin dan kicau burung yang berbicara. Di sinilah ia merasa benar-benar hidup.

Namun perjalanan belum usai. Jalur berikutnya lebih terjal. Langkah kaki mereka semakin berat, tapi semangat saling menyemangati membuat waktu terasa cepat.apalagi ada teman yang selalu berprilaku konyol seperti maesa dan satria , Setiap kali salah satu hampir menyerah, yang lain menarik tangannya.

Saat matahari mulai tenggelam, mereka akhirnya tiba di puncak. Langit memerah, seolah terbakar oleh cahaya senja. Lima orang itu berdiri berdekatan, diam, menatap cakrawala.

“Lihat,” kata maesa pelan, “semua lelah kayak hilang ya, kalau udah sampai sini.”

azzahra tersenyum. “Mungkin karena di sini kita sadar… betapa kecilnya kita, dan betapa besarnya dunia.”

sidiq ikut tersenyum atas pengungkapan azzahra yang menurutnya mewakili isi pikirannya

“emm..ada yang senyum-senyum nih” satria menyenggol bahu temannya yang sedang tersenyum ,semua orang mengalihkan atensi ke arah sidiq

“kenapa sid?”tanya naura penasaran tapi sedikit takut karna temannya senyum – senyum gak jelas

sidiq yang baru engngeh dengan keadaan langsung menoleh ke teman-temannya terutama -azzahra

“ada apa?”bingung sidiq yang di perhatikan oleh temannya

“kamu yang kenapa,kayak orang yang kerasukan jin sholeh”sahut maesa yang membuat azzahra terkekeh,sidiq semakin terpesona dengan keindahan pegunungan dan juga seorang gadis berkerudung marun yang tertiup angin malam

Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah dan embun. Lima bayangan berdiri di puncak gunung—bukan sekadar pendaki, tapi sahabat yang menemukan makna perjalanan itu sendiri.

Malam pun turun perlahan, menutup kisah mereka dengan bintang-bintang.dan juga kisah sepasang insan yang saling mencintai dalam diam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top